Kabinet Abe Kucurkan Paket Stimulus Fiskal 13,5 Triliun

Untuk memperkuat ekonomi yang lesu, Kabinet Perdana Menteri Jepang, Shinzo Abe, akhirnya menyetujui paket stimulus ¥13,5 triliun atau sekitar USD132 miliar. Paket stimulus fiskal ini bertujuan menggairahkan kembali pertumbuhan ekonomi Jepang, yang selama ini dikenal sebagai negara ekonomi terbesar ketiga di dunia.

Melansir CNBC, Selasa (2/8/2016), kebijakan fiskal ini terdiri dari ¥7,5 triliun untuk belanja pemerintah pusat dan daerah, dan ¥6 triliun untuk investasi dan program kredit, namun tidak termasuk dalam anggaran umum pemerintah. Dan stimulus ini merupakan bagian dari upaya Pemerintahan Abe untuk mengkoordinasikan kebijakan dengan Bank of Japan (BoJ).

Seperti dilansir Bloomberg, Abe mengatakan paket stimulus ini, lebih dititikberatkan pada investasi untuk memperluas ekonomi mereka. Seperti penyediaan fasilitas pelabuhan yang lebih baik dan mempercepat pembangunan transportasi kereta cepat, maglev.

Selain itu, sebanyak ¥1,3 triliun akan digunakan untuk mengurangi risiko Brexit serta membantu perusahaan skala kecil dan menengah. Adapun dana sebesar ¥2,7 triliun yen untuk bantuan terhadap perbaikan atas gempa Kumamoto dan bencana Tohoku.

Pemerintah mengatakan mereka berharap stimulus ini bisa menjadi doping dalam memacu otot produk domestik bruto (PDB) menjadi 1,3% dalam waktu dekat. Paket ini akan dilaksanakan selama beberapa tahun, seperti yang dikabarkan oleh Reuters, Selasa (2/8/2016).

berita yenAbe berusaha untuk memperluas ekonomi sebesar 20% pada tahun 2020 mendatang. Termasuk mengulang tiga tahun awal keberhasilannya, yang dikenal dengan sebutan “Abenomics”. Yaitu kebijakan moneter yang sangat akomodatif, pengeluaran fleksibel dan reformasi ekonomi secara struktural.

“Paket ekonomi ini bertujuan untuk melakukan investasi masa depan. Dengan paket ini, kami akan melanjutkan tidak hanya merangsang permintaan tapi juga mencapai pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan,” ujar Abe seperti dilansir Reuters.

Untuk menggapai perluasan ekonomi 20%, Abe berjanji meningkatkan pendapatan rumah tangga, meningkatkan angka kelahiran dan menyediakan fasilitas perawatan lebih untuk anak-anak dan orang tua.

Menariknya, paket ini datang sehari sebelum perombakan kabinet kecil, dimana sebagian besar menteri senior diharapkan tetap berada di pos mereka. Kantor berita Jepang, NHK menyebut setelah paket ini terbit, muncul spekulasi bahwa Menteri Ekonomi Jepang, Nobuteru Ishihara akan diganti namun Menteri Keuangan Taro Aso dan Sekretaris Kabinet Yoshihide Suga dikabarkan akan mempertahankan jabatan mereka.